Penelitian

PROPOSAL

PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH

JUDUL : Meningkatkan kemampuan Guru MIPA-TIK menyusun instrumen penilaian hasil belajar melalui Fokus Group Discussion (FGD) pada kegiatan pembimbingan profesionalitas guru di  SMA Negeri Kabupaten Pasaman Tahun 2011.

Peneliti  : ALI YUSRI

Pengawas Sekolah (SMA) Kabupaten Pasaman

  1. PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah

Peranan Pengawas sekolah cukup penting dalam peningkatan profesionalisme guru berkelanjutan. Program pengembangan profesionalisme guru secara berkelanjutan bertujuan memelihara, meningkatkan dan mengembangkan kompetensi guru secara berkelanjutan untuk mencapai standar profesi guru yang dipersyaratkan agar sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Sebagai penjamin mutu pendidikan, pengawas sekolah ikut bertanggungjawab dalam upaya mewujudkan tujuan tersebut di atas.

Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2008 tentang Guru Pasal 54 ayat (8) dan (9) memuat bahwa pengawas terdiri dari pengawas satuan pendidikan, pengawas mata pelajaran, atau pengawas kelompok mata pelajaran. Ruang lingkup tugas pengawas adalah melakukan pembimbingan dan pelatihan profesional guru dan pengawasan. Sementara itu pada Permendiknas Nomor 12 Tahun 2007 tentang standar kompetensi pengawas sekolah/madrasah dijelaskan bahwa tugas pengawas satuan pendidikan adalah melaksanakan supervisi manajerial dan supervisi akademik. Adapun Tugas pokok pengawas mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran antara lain melaksanakan pengawasan akademik meliputi pembinaan, pemantauan dan penilaian pelaksanaan Standar Nasional Pendidikan (SNP).

Guru profesional dalam kerangka SNP setidaknya menguasai empat kompetensi guru seperti dimuat pada Permendiknas Nomor 16 tahun 2007. Kompetensi itu meliputi kompetensi kepribadian, kompetensi pedagogik, kompetensi profesional dan kompetensi sosial. Namun pada hakekatnya, seorang profesional adalah seorang yang menjalankan pekerjaannya berdasarkan kemampuan dan sikap yang sesuai dengan tuntutan profesinya (Tilaar:2002:86). Banyak ahli sependapat bahwa tujuan-tujuan terbaik dari pengelolaan pendidikan dapat diwujudkan melalui tangan-tangan guru yang profesional.

Kewajiban guru sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 74 tentang Guru Pasal 52 ayat (1) mencakup kegiatan pokok yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, membimbing dan melatih peserta didik, serta melaksanakan tugas tambahan yang melekat pada pelaksanaan tugas pokok. Selanjutnya Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan  Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor PER/16/M.PAN-RB/11/2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya,  pada bab VII pasal 13 ayat (2) memuat setidaknya empat belas butir kegiatan guru mata pelajaran yang dinilai angka kreditnya yang apabila disimpulkan tidak jauh berbeda dari kegiatan-kegiatan popok seperti termuat pada PP di atas.

Tidak berlebihan apabila Tilaar (2002:89) menegaskan bahwa seorang guru profesional harus dapat mengadakan evaluasi dalam proses pembelajaran, membimbing peserta didik mencapai tujuan program pembelajaran, seorang administrator, seorang komunikator dan mampu mengadakan penelitian-penelitan yang berkaitan dengan peningkatan profesional seorang pendidik.

Melaksanakan evaluasi dan penilaian dalam proses pembelajaran merupakan salah satu karakteristik seorang guru profesional. Evaluasi ( evaluation) merupakan proses penyediaan informasi yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk pengambilan keputusan, sedangkan penilaian (assessment) kegiatan menafsirkan data hasil pengukuran berdasarkan kriteria tertentu (Eko, 2009:3-4). Dalam pembelajaran, Evaluasi adalah proses mengumpulkan informasi untuk mengetahui pencapaian belajar kelas atau kelompok, sedangkan penilaian adalah semua cara yang digunakan untuk menilai unjuk kerja individu atau kelompok (Djemari, 2008:5-8). Rangkaian kegiatan evaluasi antara lain penyusunan alat ukur/soal, menilai dan mengevaluasi proses dan hasil belajar serta menganalisis hasil penilaian pembelajaran.

Hasil yang baik hanya mungkin diperoleh dengan proses yang baik. Demikian juga dengan hasil belajar yang baik, hanya akan diperoleh dari proses pembelajaran yang baik. Untuk mengetahui baik atau belum baiknya hasil belajar, diketahui melalui evaluasi proses pembelajaran melalui kegiatan pengukuran hasil belajar yang disebut dengan ujian atau tes. Untuk maksud ini diperlukan alat ukur yang juga harus baik, karena hasil yang akan diperoleh juga tergantung kepada baik atau belum baiknya alat ukur (perangkat tes/soal) yang digunakan. Apabila alat ukur yang digunakan sudah lebih baik, maka informasi-informasi yang diperoleh juga akan lebih tepat untuk melaksanakan tindak lanjut.

Pembinaan kemampuan guru dalam  penyusunan instrumen penilaian hasil belajar (soal)  sejauh ini secara kuantitas sudah cukup memadai. Banyak kegiatan telah dilakukan untuk mengembangkan kompetensi guru sehubungan dengan penyusunan alat evaluasi baik kolektif maupun individu. Kegiatan kolektif itu misalnya pendidikan dan latihan (diklat) sistem pengujian, Worshop alat evaluasi, In-hous training tentang penilaian, bimbingan teknis penilaian dalam KTSP, atau bimbingan penyusunan ujian akhir sekolah yang rutin dilaksanakan setiap semester. Begitu juga bimbingan individu, misalnya pada saat supervisi kunjungan kelas, supervisi klinis, monitoring ujian dan lain-lain. Sudah cukup banyak pengalaman yang diberikan kepada guru untuk meningkatkan kompetensinya merencanakan evaluasi dan penilaian. Namun demikian, secara kualitas, apa yang diharapkan dari seorang guru terampil menyusun soal untuk pengukuran hasil belajar peserta didik, masih jauh dari harapan.

Sejumlah penomena yang menunjukkan belum baiknya soal yang digunakan guru dalam penilaian pada tahun 2010 di sejumlah SMA Negeri di Kabupaten Pasaman antara lain:

  1. Pemilihan bentuk soal kurang sesuai dengan karakteristik materi uji. 90% Guru membuat tes uraian untuk konsep-konsep sederhana dan mudah yang sifatnya pengetahuan. Pertanyaan misalnya dimulai dengan “sebutkanlah….” atau “ tuliskanlah….”.
  2. 98% guru MIPA-TIK tidak mencantumkan skor maksimal butir soal dalam menyajikan suatu tes. Pedoman pensekoran ditulis ketika akan memeriksa lembar jawab peserta tes, sehingga pada saat ujian peserta didik tidak memiliki acuan untuk prioritas penyelesaian soal.
  3. 90% guru memaksakan sekor maksimal suatu paket tes berjumlah 100 dengan alasan agar mudah membagi. Sekor-sekor belum diatur sesuai dengan pola jawaban soal.
  4. Tidak seorang guru MIPA-TIK pun yang melakukan analisis kuantitatif maupun kualitatif terhadap soal-soal uraian yang telah diujikan pada ulangan harian.
  5. Sering guru mengeluh mencermati rendahnya kemampuan siswa menyelesaikan soal ujian nasional MIPA-TIK atau seleksi masuk perguruan tinggi yang ranah kognitifnya cukup tinggi. Hal ini juga diduga karena kebiasaan guru menyajikan tes uraian dengan ranah kognitif rendah; pengetahuan, pemahaman atau aplikasi.

Kondisi-kondisi di atas menunjukkan masih terabaikannya kompetensi evaluasi dan penilaian oleh guru-guru MIPA-TIK.  Jika kondisi ini tidak segera disikapi, maka fenomena-fenomena di atas tentu saja akan berdampak kurang baik terhadap kemajuan daya fikir dan hasil belajar peserta didik terutama di Kabupaten Pasaman. Inilah sebabnya penelitian ini sangat penting dilaksanakan, dengan harapan dapat meningkatkan kompetensi evaluasi dan penilaian bagi guru MIPA-TIK di SMA Kabupaten Pasaman.

B.  Perumusan Masalah

Upaya meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun instrumen penilaian hasil belajar sesungguhnya dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain melalui pendidikan dan pelatihan (diklat), mengikutsertakan guru dalam semiloka, workshop, menyediakan panduan dan modul, dan berbagai upaya lainnya. Namun dengan mempertimbangkan keunggulan dan kelemahan masing-masing, maka penerapan Fokus Group Discussion (FGD) agaknya akan lebih sesuai. Pertimbangannya, dengan FGD, guru lebih proaktif, dan membentuk karekter diri dalam upaya penyusunan tes hasil belajar.

Sejalan dengan permasalahan yang sering dan tengah dihadapai oleh banyak guru MIPA-TIK di SMA N Pasaman sehubungan dengan penyusunan tes hasil belajar seperti dipaparkan di atas, maka untuk penelitian ini, rumusan masalah yang akan dicarikan solusinya adalah:

  1. Apakah kemampuan guru MIPA-TIK dalam menyusun instrumen penilaian hasil belajar melalui Fokus Group Discussion pada kegiatan pembimbingan profesional dapat meningkat?
  2. Bagaimanakah pelaksanaan FGD yang diterapkan dalam proses pembimbingan profesionalitas guru MIPA-TIK di sekolah?

C.  Cara Pemecahan Masalah

Rencana pemecahan masalah dilakukan dengan penerapan Fokus Group Discussion (FGD) untuk menyusun instrumen penilaian hasil belajar pada kegiatan pembimbingan profesionalitas guru mata pelajaran MIPA-TIK. FGD dipilih karena pada diskusi ini, peserta benar-benar dirahkan untuk menyelesaikan permasalahan sehubungan dengan topik yang dipilih. Selain itu, FGD akan menggali kebiasaan, keyakinan dan gagasan dari setiap peserta kelompok Pemilihan teknik ini diharapkan akan mengubah pola pikir guru didalam menyusun instrumen penilaian hasil belajar yang sesuai dengan kompetensi dasar yang dituntut dalam standar isi KTSP.

D.  Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah yang telah diungkapkan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Mengetahui peningkatan kemampuan guru MIPA-TIK dalam menyusun instrumen penilaian hasil belajar melalui Fokus Group Discussion pada kegiatan pembimbingan profesional di sekolah.
  2. Mendeskripsikan pelaksanaan Fokus Group Discussion yang diterapkan dalam proses pembimbingan profesionalitas guru MIPA-TIK di sekolah.
    1. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian tindakan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai kalangan.

  1. Bagi siswa dapat meningkatkan hasil belajar karena kualitas soal yang dikerjakan sudah lebih baik.  
  2. Bagi Guru MIPA-TIK dapat meningkatkan percaya diri dan profesionalitas karena kemampuannya semakin diakui di tengah kalangan guru lain.
  3. Bagi Kepala Sekolah, dapat dijadikan acuan model pembinaan kompetensi bagi guru-guru lain terutama untuk pemecahan masalah dalam penyusunan perangkat tes hasil belajar di sekolah yang dipimpin.
  4. Bagi Pengawas Sekolah, sebagai acuan untuk melaksanakan pembinaan pengembangan profesional guru untuk penyusunan perangkat tes hasil belajar di sekolah binaan.
  5. Bagi peneliti sebagai acuan untuk pengembangan diri dan profesionalitas dalam melaksanakan pembinaan guru di sekolah binaan.

 

II. KAJIAN PUSTAKA

A.  Kompetensi Melaksanakan Penilaian

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 16 tahun 2007 tentang Standar Kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan memuat ke empat standar kompetensi pendidik, yaitu kepribadian, sosial, pedagogik dan profesional.

Satu aspek pada kompetensi pedagogik adalah  menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar. Untuk melaksanakan aspek ini, maka kompetensi yang harus dikuasai guru antara lain adalah mengembangkan instrumen penilaian, evaluasi proses dan hasil belajar. Teknik penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar antara lain dilakukan melalui tes. Soal untuk pelaksanaan tes dapat disusun dengan bentuk objektif atau uraian.

B.  Tes Uraian

Konsep penyusunan perangkat tes uraian (soal) telah banyak di analisis oleh ahli evaluasi. Misalnya, Sumarna (2005:198), pendapatnya tentang soal uraian antara lain” soal uraian adalah soal yang jawabannya menuntut peserta didik untuk mengorganisasikan gagasan atau hal-hal yang telah dipelajarinya dengan cara mengemukakan gagasan tersebut dalam bentuk lisan. Demikian juga dengan Sukardi (2008:94) mengungkapkan bahwa secara ontologi, tes esai (uraian) item pertanyaan yang masing-masing mengandung permasalahan dan menuntut jawaban siswa melalui uraian-uraian kata yang merefleksikan berfikir siswa. Masih tentang tes uraian, Suharsimi menyebutnya sebagi tes subjektif. Menurut Suharsimi (1997:163) tes bentuk essay (uraian) adalah sejenis tes kemajuan belajar yang memerlukan jawaban yang bersifat pembehasan atau uraian kata-kata.

Uraian ke tiga pendapat di atas disimpulkan bahwa tes uraian adalah tes yang memerlukan jawaban urain berupa penjabaran gagasan siswa atas penyelesaian masalah yang disajikan dalam soal. Itulah sebabnya soal untuk tes uraian diungkapkan dengan kata kerja opersional yang menuntut pemaparan gagasan.

Sehubungan dengan pertanyaan pada tes uraian, Suharsimi (1997:163) menelaskan bahwa pertanyaan tes essay hendaknya didahului dengan kata-kata seperti: uraikan, jelaskan, mengapa, bagaimana, bandingkan, simpulkan dan sebagainya. Selanjutnya dikemukakan Sumarna (2005:198), setidaknya terdapat 16 kemampuan yang dapat diungkapkan melalui tes uraian, yaitu: (1) menyeleksi, (2) mengorganisasi, (3) mengintegrasi, (4) menghubungkan, (5) mengevaluasi, (6) menganalisis, (7) membandingkan, (8) menjelaskan hubungan sebab-akibat, (9) mendeskripsikan aplikasi dari prinsip/konsep, (10) memberikan argumen yang relevan, (11) memformulasikan hipotesa, (12) memformulasikan kesimpulan yang benar, (13) menyatakan asumsi, (14) mendeskripsikan keterbatasan data, (15) problem solving dan (16) menjelaskan prosedur/metode. Demikian juga dengan Anas (1996:100), mengungkapkan bahwa bentuk-bentuk pertanyaan atau perintah itu menuntut kepada testee untuk memberikan penjelasan, komentar, penafsiran, membandingkan, membedakan dan sebaginya.

Baik Suharsimi, Sumarna atau Anas sependapat bahwa soal pada tes uraian harus benar-benar menuntut jawaban dengan pemikiran yang cukup komplek dan luas.

C.  Karakteristik Tes Uraian

Memahami karakteristik tes uraian, berpijak atas pendapat beberapa ahli. Eko (2009:83) mengungkapkan, karaktristik tes uraian antara lain: a) meliputi ide pokok dari materi yang diujikan dan bersifat konfrehensif, b) tidak mengambil kalimat yang disalin langsung dari buku karena akan mendorong siswa hanya menghafal materi ujian dan hanya akan mengungkapkan aspek kognitif yang paling rendah yaitu ingatan, c) dilengkapi dengan kunci jawaban serta pedoman pensekoran, dan d) menggunakan kalimat tanya “jelaskan”, “mengapa”, “bagaimana”, “uraikan”, atau “bandingkan”. Selanjutnya Sukardi (2008:96) mengemukakan beberapa cara mengonstruksikan pertanyaan uraian antara lain: a) memfokuskan pertanyaan esai pada materi pembelajaran yang tidak dapat diungkapkan dengan bentuk tes lain misalnya tes objektif, b) menggunakan kata-kata yang spesifik, seperti terangkan, bandingkan, buktikan, nyatakan dalam kesimpulan, atau gunakan. Sementara itu Sumarna (2005:239-) menyusun kriteria soal uraian antara lain: a) pertanyaan atau pernyataan harus menggunakan kata-kata tanya atau kata perintah yang menuntut jawaban terurai seperti; jelaskan, uraikan, mengapa, hubungkan, bandingkan, tafsirkan, hitunglah atau buktikan, b) jangan menggunakan kata yang tidak menuntut peserta didik untuk menguraikan, c) buat pedoman pensekoran segera setelah soal uraian selesai ditulis. Senada dengan ini, Djemari (2008:74) membuat beberapa karakteristik penyusunan tes uraian antara lain:a) gunakan kata-kata: mengapa, uraikan, jelaskan, bandingkan, tafsirkan, hitunglah atau buktikan, b) buat pedoman pensekoran.

Sejalan dengan uraian di atas, maka disimpulkan beberapa karakteristik penyusunan tes uraian antara lain: a) materi yang diujikan hendaknya bersifat konfrehensif, b) memfokuskan pertanyaan esai pada materi pembelajaran yang sulit diungkapkan dengan bentuk tes lain misalnya tes objektif, c) menggunakan kata tanya antara lain “jelaskan”, “mengapa”, “bagaimana”, “uraikan”, “bandingkan”, “buktikan”, “hitunglah”, atau “tafsirkan”, dan d) membuat pedoman pensekoran segera setelah soal uraian selesai ditulis.

D.  Kaedah penulisan Tes Uraian.

Hakekat dan karakteristik tes uraian seperti diungkapkan di atas sebenarnya sudah cukup kuat untuk menjelaskan konstruksi tes uraian yang baik. Namun demikian, dapat ditegaskan kembali dengan format kaedah penulisan soal uraian.

Kaedah penulisan soal uraian setidaknya memiliki tiga aspek yaitu materi, konstruksi dan bahasa. Baik Sumarna (2005:239)  maupun Depdiknas (2008:18) sependapat bahwa kaedah penulisan soal uraian, antara lain  adalah:

  1. Materi
  2. Soal harus sesuai dengan indikator.
  3. Setiap pertanyaan harus diberikan batasan jawaban yang diharapkan.
  4. Materi yang ditanyakan harus sesuai dengan tujuan peugukuran.
  5. Materi yang ditanyakan harus sesuai dengan jenjang jenis sekolah atau tingkat kelas.
    1. Konstruksi
    2. Menggunakan kata tanya/perintah yang menuntut jawaban terurai.
    3. Ada petunjuk yang jelas tentang cara mengerjakan soal.
    4. Setiap soal harus ada pedomanpenskorannya.
    5. Tabel, gambar, grafik, peta, atau yang sejenisnya disajikan dengan jelas, terbaca, dan berfungsi.
    6. Bahasa
      1. Rumusan kalimat soal harus komunikatif.
      2. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar (baku).
      3. Tidak menimbulkan penafsiran ganda.
      4. Tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat/tabu.
      5. Tidak mengandung kata/ungkapan yang menyinggung perasaan peserta didik.
      6. Fokus Group Discussion (FGD)

Focus Group Discussion (FGD) secara sederhana dapat diartikan sebagai suatu diskusi yang dilakukan secara sistematis dan terarah atas suatu masalah tertentu.  Kumar (Escalada & Heong, 2011) mengungkapkan “ The focus group discussion (FGD) is a rapid assessment, semistructured data gathering method in which a purposively selected set of participants gather to discuss issues and concerns based on a list of key themes drawn up by the researcher/facilitator. Selanjutnya Barbara & Schiller (2011) menyatakan “Focus Group discussions are a meeting of participants invited by the researcher in order to gather certain predetermined information  and thus focussed through guided discussion. Dari dua pendapat dapat dimaknai, bahwa FGD merupakan Proses pengumpulan data dan informasi yang sistematis mengenai suatu permasalahan atau isu tertentu yang sangat spesifik melalui diskusi kelompok. FGD adalah diskusi dengan peserta terbatas yang berasal dari satu kelompok tertentu dan dengan topik bahasan diskusi tertentu pula.

Mempertegas uraian di atas, Irwanto (2011) mengungkapkan bahwa FGD adalah kelompok diskusi bukan wawancara atau obrolan, FGD adalah group bukan individu, FGD adalah diskusi terfokus bukan diskusi bebas. Selanjutnya Stefanus (2011) menyatakan, FGD merupakan suatu bentuk diskusi berkelompok dalam waktu yang terbatas. Demikian juga Bagus (2011) menayatakan bahwa FGD adalah salah satu teknik dalam mengumpulkan data kualitatif di mana sekelompok orang berdiskusi dengan pengarahan dari seorang moderator atau fasilitator mengenai suatu topik (Bagus, 2011). Dari berbagai ungkapan ini disimpulkan bahwa FGD adalah diskusi yang diarahkan oleh seorang moderator untuk menyelesaikan suatu permasalahan dalam waktu yang terbatas.

  1. Tujuan Fokus Group Discussion (FGD)

Secara umum penyelenggaraan Fokus Group Diskusi (FGD)  bertujuan untuk menggali informasi, aspirasi, pemikiran dan pengalaman peserta guna menyamakan persepsi dalam rangka membangun kesamaan visi dan missi sehingga menumbuhkan kesadaran tentang Peran, fungsi dan tanggung jawabnya sebagai subyek dalam melakukan pengwasan.

Bagus (2011) menyatakan, tujuan  penyelenggaraan FGD adalah untuk memperoleh informasi yang mendalam tentang sesuatu aspek yang sedang dipelajari terutama yang berkaitan dengan sikap dan tanggapan terhadap suatu program. Selanjutnya Cilaki (2011,IV-7) menjelaskan bahwa Tujuan dari metoda FGD adalah untuk menambah dan memperdalam informasi, membangun kesepakatan/komitmen, mengkalrifikasi informasi yang kurang pada basis data dan juga bisa dipakai untuk memperoleh opini-opini yang berbeda mengenai satu permasalahan tertentu. Barbara & Schiller (2011) mengungkapkan bahwa tujuan FGD antara lain “ Collect information which can assist decision makers to prepare and improve agricultural inovation programs. Listen to and learn from Focus Group participants in order to collect appropriate information”. Berdasarkan uraian ini, disimpulkan bahwa tujuan FGD untuk memproses dan mempertegas suatu informasi sehingga diperoleh persepsi yang sama untuk menindak lanjuti suatu tindakan.

Banyak aspek yang dapat diungkap dalam FGD, misalnya kepercayaan diri, ketrampilan komunikasi, kematangan sosial emosional, potensi kerjasama, pengambilan keputusan, adaptasi, penyesuaian diri, dan kebutuhan-kebutuhannya.

Meski sebuah diskusi, FGD tidaklah sama dengan pembicaraan informal lainnya. FGD bukan hanya kumpul-kumpul beberapa orang untuk membicarakan suatu hal. Meski terlihat sederhana, dibutuhkan teknik tertentu menyelenggarakannya. FGD memiliki prosedur dan standar tertentu yang harus diikuti agar hasilnya  sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Tiga hal yang harus diperhatikan dalam menyelenggarakan FGD adalah:

  1. Kontribusi, dalam FGD, kita tidak boleh hanya diam saja atau duduk mendengarkan peserta lain mengemukakan pendapat. Sebaliknya, peserta harus turut berpartisipasi dalam setiap pembahasan topik dengan memberikan opini-opini sesuai permasalahan yang dikembangkan, dengan tutur kata yang sopan dan santun.
  2. Interaksi, dalam FGD, interaksi dengan peserta lain merupakan poin plus. Menanggapi opini peserta lain adalah sesuatu yang amat wajar, namun harus dilakukan dengan baik, dengan apresiasi penuh atas opini peserta itu. Interaksi dalam tim diusahakan dalam keadaan wajar tanpa harus dibuat-buat karena hal ini akan berdampak kepada faktor psikis.
  3. Sikap, dalam FGD ,sikap atau attitude kita baik dalam menanggapi masalah atau berinteraksi dengan peserta lain sangat menentukan keberhasilan kita. Attitude meliputi intonasi, tatapan muka, gerak-gerik alat tubuh, dan lain-lain. Hendaknya intonasi suara ketika berdiskusi cukup jelas terdengar tanpa harus berteriak lantang tentunya. Tatapan muka amat penting ketika berbicara, jangan tengadah keatas, apalagi berbicara sambil menduk, hal yang demikian terkesan kurang menghargai orang lain. Tatap mata peserta lain dan jelaskan opini dengan cermat dan lugas (Stefanus, 2009).
  4. Menyelenggarakan FGD

Langkah-langkah perencanaan penyelenggarakan FGD antara lain adalah sebagai berikut (Cilaki, 2011,IV-7-8):

  1. Lakukan diskusi dengan satu topik tertentu.
    1. Tentukan target peserta dan diskusikan dengan warga komunitas tersebut kriteria-kriteria target peserta
    2. Setelah menentukan kriteria-kriteria yang terkait, lalu identifikasi siapa-siapa yang akan mewakili masing-masing kelompok kriteria tersebut.
    3. Rencanakan penjadwalan waktu pelaksanaan FGD
    4. Buat desain pedoman FGD
  • • Pedoman terdiri dari daftar pertanyaan untuk menjadi bahan fasilitator untuk memancing diskusi pada FGD
  • • Pedoman bagi fasilitator untuk mendorong kebebasan berekspresi, tergalinya informasi secara mendalam dari peserta
  • • Buat pertanyaan-pertanyaa simple dengan jawaban tertutup
  • • Pedoman harus detail
  • • Pedoman harus menyediakan pertanyaan-pertanyaan terbuka untuk topik khusus yang didisukusikan

6. Siapkan fasilitator dan pencatat proses

Dipertegas oleh jejaringmudakatolik.com (2011) bahwa tahapan melaksanakan FGD adalah:

  1. Fasilitator menjelaskan tujuan dan instruksi kegiatan.
  2. Fasilitator menjelaskan tema tertentu yang akan didiskusikan.
  3. Fasilitator memberi kesempatan kepada peserta untuk mulai berdiskusi.
  4. Setelah diskusi selesai, fasilitator mengucapkan terimakasih atas partisipasi peserta.

H.  Fokus Group Discussion (FGD) yang efektif.

Untukku.com (2011) memuat sejumlah manfaat dari FGD, antara lain:

  1. Praktis dan ekomonis. Penggunaaan FGD memungkinkan perusahaan melakukan satu kegiatan dengan beberapa orang sekaligus. Seperti yang sudah disampaikan pada artikel sebelumnya, dalam FGD normalnya setiap kelompok terdiri dari 4 – 7 orang dan rata-rata satu kelompok waktunya adalah 20 – 30 menit sehingga FGD akan menghemat waktu yang harus diluangkan pemandu.
  2. FGD mengungkap beberapa aspek sekaligus seperti pemahaman atas permasalahan di sekitarnya, logika berfikir, pengambilan keputusan, inisiatif, ketrampilan komunikasi, kepercayaan diri dan masih banyak hal lainnya.
  3. FGD lebih bersifat natural bila dibandingkan dengan wawancara, namun justru dari situ dapat dilihat antisipasi peserta dalam menyelesaikan permasalahan atau kasus yang diberikan. Selain itu bisa dilihat juga bagaimana ketahanannya dalam berhadapan dengan situasi yang underpressure. Pressure dari FGD selain berupa kasus itu sendiri bisa dari anggota kelompok lainnya.

Selanjutnya Om Nip-Nip (2010) mengungkapkan keuntungan FGD antara lain:

  1. Biaya relatif murah.
  2. Waktu yang digunakan cukup singkat.
  3. Moderator relatif dapat dilakukan oleh siapa saja dengan melakukan pelatihan pendek dan mengujicobakan menjalankan diskusi.
  4. Dapat digunakan untuk menggali kebiasaan, keyakinan dan penilaian dari sebuah kelompok.
  5. Perhatian yang penting dan mungkin tidak muncul dalam kehidupan sehari-hari, melalui diskusi kelompok ini dapat dimunculkan.

Berdasarkan uraian di atas dapat dimaknai bahwa suatu FGD dapat disebut sukses adalah jika terjadi dinamika dalam kelompok tersebut, artinya suasana diskusi hidup, hangat, antusias, penuh lontaran ide dan umpan balik antara anggota kelompok untuk mencari suatu solusi masalah dalam waktu singkat.

III. METODE PENELITIAN

  1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di beberapa Sekolah Menengah Atas Negeri (SMA N) Kabupaten Pasaman. Sekolah itu adalah; SMA N 1 Rao, SMA N 1 Padang Gelugur, SMA N 1 Panti dan SMA N 1 Dua Koto. Alasan utama keempat sekolah itu menjadi lokasi dalam penelitian ini adalah; Pertama, permasalahan yang sama terjadi terjadi pada guru-guru MIPA-TIK di sekolah-sekolah tesebut. Kedua, guru-guru MIPA-TIK sekolah tersebut menjadi binaan peneliti pada tahun 2011.

  1. Subjek Penelitian

Subjek Penelitian ini adalah sejumlah guru Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknologi Informasi Komunikasi (MIPA-TIK) yang ada di sekolah-sekolah lokasi penelitian yang melaksanakan tugas pada tahun pelajaran 2010/2011. Pemilihan mereka didasarkan pada penugasan peneliti pada tahun pelajaran 2010/2011 sebagai Pengawas Kelompok Mata Pelajaran. Surat Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pasaman Nomor 800/114 /Pdd-2010 menunjuk peneliti menjadi Pengawas Kelompok Mata Pelajaran MIPA-TIK pada sekolah-sekolah di atas. Selanjutnya, permasalahan penelitian masih terjadi pada semua guru MIPA-TIK di sekolah-sekolah tersebut. Subjek penelitian adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Subjek Penelitian Per Sekolah

N0 SEKOLAH JUMLAH GURU MAPEL JML
MAT FIS KIM BIO TIK
1 SMA N 1 Rao 5 3 3 3 3 17
2 SMA N 1 Padang. Gelugur 3 2 1 4 1 11
3 SMA N 1 Panti 3 3 3 4 2 15
4 SMA N 1 Dua Koto 4 2 2 1 2 11
Jumlah Subjek Peneltian 15 10 9 12 10 54

 

C.  Data dan Instrumen Penelitian

Sumber data dalam penelitian tindakan sekolah ini adalah:

  1. Guru perserta bimbingan. Adapun data guru yang diambil berupa hasil kerja setelah bimbingan dan perilaku (interaksi antara guru dengan guru, guru dengan pengawas) selama dalam proses bimbingan.
  2. Pengawas yang melaksanakan bimbingan. Adapun data pengawas yang diambil adalah tidakan pengawas dan efektifitas bimbingan yang dilakukan.
  3. Siswa, melalui hasil belajar yang diperoleh melalui butir soal yang disusun guru.

D.  Teknik Pengumpulan Data.

Teknik pengumpulan data akan dilakukan antara lain melalui:

  1. Observasi terhadap aktivitas pengawas dalam pembimbingan (dengan fokus pada aspek-aspek yang akan diteliti).
  2. Wawancara guru dengan pengawas mengenai kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam perencanaan penilaian.
  3. Hasil kerja guru dalam menyusun perangkat penilaian yang dikumpulkan untuk dicermati dengan instrumen validasi butir tes uraian beberapa hari setelah pembimbingan.
  4. Hasil belajar siswa yang dikumpulkan untuk menentukan validiti dan reliabiliti butir tes yang disusun guru.
    1. Teknik Analisa Data

Data-data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan perubahan perilaku guru pada saat pembimbingan dan perilaku supervisor saat melaksanakan bimbingan. Sedangkan analisis kuantitatif digunakan untuk mengetahui peningkatan kemampuan guru dalam menyusun instrumen penilaian (soal) dan hasil belajar siswa yang diperoleh setelah melaksanakan tes dari soal yang telah disusun guru.

Untuk mendeskripsikan tingkat kemampuan guru dalam menyusun instrumen penilaian, digunakan standar yang ditetapkan dalam Permenpan nomor 16 tahun 2009 pasal 15 tentang standar kinerja guru yaitu: Skor 91-100 adalah “Amat Baik”, 76-90 adalah “Baik”, 61-75 adalah “Cukup”, 51-60 adalah “sedang” dan < 50 adalah “kurang”.

Efektifitas soal dideskripsikan melalui hasil belajar peserta didik setelah melaksanakan tes dengan soal yang disusun guru. Hasil belajar siswa dianalisis dengan software analisis butir tes uraian yang dikeluarkan oleh Direktorat P. SMA tahun 2009.

  1. Indikator Kinerja

Semua data yang terkumpul selanjutnya digunakan untuk menilai keberhasilan tindakan yang diberikan, dengan indikator keberhasilan sebagai berikut:

  1. Minimal 75 % guru peserta bimbingan meningkat kemampuannya dalam menyusun instrumen penilaian hasil belajar (soal uraian).
  2. Terjadinya peningkatan hasil belajar siswa melalui soal yang telah disusun guru setelah pembimbingan.
  3. Minimal 75% guru peserta bimbingan berpartisipasi aktif dalam mengembangkan instrumen penilaian hasil belajar, baik selama bimbingan maupun dalam implementasi di kelas.

G.  Prosedur Penelitian

Siklus I:

  1. Perencanaan tindakan
  • Merencanakan program FGD.
  • Menentukan kompetensi yang harus dikuasai.
  • Mengembangkan skenario FGD.
  • Menyusun pedoman FGD.
  • Menyiapkan notula diskusi.
  • Mengembangkan format penilaian.
  • Mengembangkan format observasi pelatihan.
  1. Pelaksanaan  tindakan
  • · Melaksanakan tindakan sesuai skenario bimbingan, serta lembar kerja peserta FGD.
  1. Observasi Tindakan
  • Melakukan observasi sesuai format yang telah disipakan.
  • Menilai hasil tindakan sesuai format yang telah disiapkan.
  1. Refleksi  dan Evaluasi hasil penelitian
  • Melakukan evaluasi mutu, jumlah dan waktu dari setiap tindakan.
  • Melakukan pertemuan untuk membahas hasil evaluasi tentang skenario bimbingan serta lembar kerja peserta FGD.
  • Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai hasil evaluasi untuk digunakan pada siklus berikutnya.
  • Evaluasi tindakan pertama.

Siklus II:

  1. Perencanaan
  • Identifikasi dan penentuan alternatif pemecahan masalah.
  • Pengembangan program tindakan ke dua.
  1. Tindakan
  • · Pelaksanaan tindakan ke dua
  1. Pengamatan
  • Pengumpulan dan analisis data ke dua.
  1. Refleksi
  • Evaluasi tindakan ke dua.
  1. Jadwal Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan selama lebih kurang empat bulan dengan uraian kegiatan sebagai berikut:

NO KEGIATAN BULAN DAN MINGGU KET
JULI SEPT OKT NOV
1 2 3   1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Perencanaan X                                
2 Persiapan X                                
3 Pelaksanaan Tindakan I   X X X                          
4 Pelaksanaan Tindakan II         X X X X                  
5 Pengolahan Data                 X X X X          
6 Penyusunan Laporan                         X X X X  

 

  1. Personalia Penelitian

Penelitian Tindakan Sekolah ini melibatkan penulis sebagai peneliti utama, dibantu oleh beberapa Pengawas Akademik Dinas Pendidikan Pasaman tahun 2011.

DAFTAR RUJUKAN

Bagus Qomaruddin. 2011.Focus Group Discussion. http://www. Diakses Rabu 16

Februari 2011.

Barbara.L & Martin-Schiller. Pedoman Diskusi Kelompok Fokus. http://www.pdf.usaid.gov. Diakses rabu 16 Februari 2011.

Dadang Suhardan. 2010. Supervisi Profesional. Bandung: Alfabeta.

Direktorat PSMA. 2010. Pelaksanaan Penilaian dalam Implementasi KTSP di SMA. Jakarta: Kepmendiknas.

Djemari Mardapi. 2008. Teknik Penyusunan Instrumen Tes dan Non Tes. Yogyakarta: Mitra Cendikia Press.

Eko Putro Widoyoko. 2009. Evaluasi Program Pembelajaran. Yogayakarta: Pustaka Pelajar.

Escalada.M & Heong.K.L. Focus Group Discussion. http://www.ricekoppers.net  Diakses Sabtu 19 Februari 2011.

Haris Mujiman. 2009. Manajemen Pelatihan. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.

Irwanto. 2007. Focus Group Discussion. http://www.researchekpert.wordpress.com  Diakses Sabtu 19 Februari 2011.

Jejaringmudakatolik. 2011.Diskusi Kelompok Terfokus.http://www.kulinet.com. Diakses Sabtu, 19 Februari 2011.

Mukhtar dan Iskandar. 2009. Orientasi Baru Supervisi Pendidikan. Jakarta: Gaung Persada Press.

Om Nip-Nip. 2010. Focus Group Discussion.http://www.luzman-interisti.blogspot.com.Diakses rabu, 16 Februari 2011.

Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan  Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor PER/16/M.PAN-RB/11/2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya

Permendiknas nomor 16 tahun 2007 tentang standar kompetensi pendidik

Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2008 tentang Guru

Permendiknas Nomor 12 Tahun 2007 tentang standar kompetensi pengawas sekolah/madrasah.

Sukardi. 2008. Evaluasi Pendidikan Prinsip & Operasionalnya. Jakarta: Bumi Aksara.

Stefanus Kusuma Adityawan. 2009. Kiat Sukses Focus Group Discussion (FGD).http://www.untukku.com. Diakses Sabtu, 19 Februari 2011.

Sumarna Surapranata. 2005. Panduan Penulisan Tes Tertulis, Implementasi Kurikulum 2004. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Tilaar.H.A.R. 2002. Membenahi Pendidikan Nasional. Jakarta: Rineka Cipta

Veithzal Rivai dan SylvianaMurni. 2009. Education Managemen Analisis Teori dan Praktik. Jakarta: Rajawali Press.

………………..2009. FGD- Bagaimana melaksanakannya. http://sinergioptima.wordpress.com. Diakses Sabtu 19 Februari 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: